Kupeluk bayangmu dalam rindu yg tak pernah diam.
Kupeluk dirimu dalam rindu yg tak pernah hening.
Mengingatmu adalah doaku.
Ia mengikuti ke-akuan dirinya. Anggapannya melebihi kehendakNya. Cinta yang kuperuntukkan bagi dirinya dan kepatuhanku padanya, membuat ia yakin bahwa pilihan akan jatuh pada dirinya. Kali ini salah. Aku memilih meninggalkannya. Walau sesungguhnya tidak bersamanya adalah pilihan penjara rindu. Disana, bersemayam rindu yang terpilih. Aku merasakan keremukan hati yang sedang menyebar bersama darah.
Hari ini seperti hari biasa. Selepas kerja, menjemputnya, lalu bersama-sama ke rumahku. Tak ada yang istimewa. Rutinitas ini adalah semacam ibadah harianku yang terbilang baru. Karenanya aku meninggalkan kebiasaan lamaku. Namanya adalah doa baru yang selalu terucap. Parasnya adalah lukisan keagungan. Dengannya, pintu-pintu kebahagian seolah terbuka semuanya. "Untukmu, apapun aku lakukan" ucapku kepadanya. Seketika wajahnya memerah, bibirnya pun ikut merekah. Senyuman khas miliknya. Raut itu yang selalu aku inginkan saat bersamanya. Terkadang aku butuh kebohongan kata agar tampak paras tersipu itu. Menurut banyak orang, wajahnya berwatak keras. Itu benar. Sikap keras ini yang selalu aku lembutkan dengan humor. Ia selalu tersenyum geli melihat laku dan cerita murahanku. Rumahku lebih dekat dari tempat dimana aku kerja, aku tinggal didaerah padat penduduknya. Ciri khas pinggiran kota yang selalu saja menyimpan komedi serta tragedi. Karakteristik masyarakat boleh dibilang abu-abu. Aku menemukan kumpulan sikap pada satu diri. Berbuat usil, nakal, berkelahi, tapi juga diwaktu tertentu berubah bak aktivis mesjid. Terlalu rumit bagiku untuk mendeskripsikan tempat tinggalku. Bahkan teman-temanku berkelakar, jika tinggal ditempatku lantas tidak nakal dan usil, tak akan mendapat KTP setempat. Hmmm... Entah bagaimana sejarah tempat ini. Yang aku tau, sejak kecil, aku berada disitu.
Aku melupakan jalan ke arah rumahku. Aku mengarah ke lokasi terindah. Ya, tempat. Lagi-lagi, ini semacam ibadah harianku. Menunaikan "ibadah" menjemputnya dimana pun dia berada. Lelah bekerja, saatnya melakukan perjalanan cinta.
Aku bekerja diperusahaan yang jejaring dan modalnya sangat besar. Perusahaan Transnasional sebutannya. Kira-kira itu yang pernah aku dengar kuliah dulu. Aku ditempatkan pada posisi yang menurut penjelasan atasanku adalah ujung tombak perusahaan. Posisi yang paling terakhir di PHK jika perusahaan ini collapse. Sehingga peran posisiku memiliki mobilitas yang tinggi. Pasti. Karena kami harus memenuhi sebuah pencapaian target besar. Alhamdulillah, gajinya lebih dari cukup.
Kerja ini adalah dirinya. Kupersembahkan untuknya. Sehingga lelah bekerja, seketika lenyap. "Yuk.. kemana kita hari ini?" pertanyaan umum yang sering aku lontarkan. Rute umum: kami mengitari kota. JIka punya kelebihan, kami menghabiskan waktu berbelanja, makan, atau aktivitas lain yang terlintas dipikiran kami jika sedang bersama. Usai itu semua, kami beralih kerumah ku lalu membantu ibu dan bapakku di warung makan. Letaknya tak jauh. Masih se-kantor administrasi dengan tempat tinggalku.
Ibu dan bapakku memulai usaha dari dagangan barang -barang primer hingga tersier. Alat-alat dapur, hingga kredit emas dan motor. Semasa kuliah dulu aku ikut menggeluti urusan usaha orang tua. Ibu dan bapakku lebih memilih, aku menjadi seorang pegawai atau karyawan dibanding meneruskan usaha ibu bapakku. Mungkin menurut mereka, usaha membutuhkan pengorbanan lebih dan daya semangat yang kuat. Sementara aku, mungkin saja bukan orang yang tepat mengelolanya. Entahlah.
Usaha terakhir yang digeluti orang tuaku adalah warung makan tadi. Tentunya dalam usaha, kekuatan pelayanan dan jaringan termasuk bagaimana mengatur dan menjaga karyawan adalah hal yang utama. Cukup permasalahan datang dari hutang-piutang, sebagai resiko usaha. Bukan dari keretakan hubungan. Itu adalah hal yang paling dijaga oleh ibu dan bapakku. "Kepercayaan itu mahal dek, menjaga hubungan dengan orang lain itu paling penting, kalo menyangkut rugi itu resiko, tinggal pintar-pintarnya kita mengatur dan menghitung" terang bapakku.
Seperti pada kebanyakan kisah, baik aku atau dia, soal orang tua kami tak ada permasalahan. Kebaikan selalu terpancar dari mereka untuk kita berdua. Aku dekat dengan kedua orang tuanya, begitupun sebaliknya. Setiap hari kami bekerja membantu ibu dan bapak di warung makan terkecuali ada urusan-urusan lain yang menyita waktu kami.
Aku menyadari sesuatu yang besar lahir dari pengorbanan yang besar pula. aku yakin pengorbanan ini adalah mahar kebahagiaan kelak. aku merencanakan takdir diatas kertas keyakinan. aku lupa bahwa ada kertas takdir yang telah dituliskan terlebih dahulu. Tak ada keyakinan disana, yang ada hanyalah ketundukan.
"Dekat secara phisicly, bukan berarti dekat secara psikis" nalarku menyadari. Dekat dalam jangkauan inderawi itu tak penting, jika secara psikis kita terpisah. Kata-kata ini yang akhirnya menjadi referensi keputusanku kelak.
Aku ternganga, tercengang, kalut mendengar adikku bercerita kronologis kejadian yang baru saja terjadi. Ibuku menangis, karena sejauh ini belum pernah mengalami kejadian seperti itu. Terbilang sepele, tapi setiap orang memiliki penilain tersendiri terhadap suatu masalah. Penyebabnya setitik nila. Kejadian yang menurutku tak harus ada. Ia hanya butuh satu sikap sinonim; memahami dan mengerti. MEMAHAMI DAN MENGERTI. Sikap kerasnya yang selalu kupahami dan berusaha kubina, yang selalu aku sampaikan kehilangan makna. Benang yang kurajut, putus. Sehingga aku mesti mengait-ngaitkan kembali. Dan bukan pula ketersinggungan yang hadir antara ia dan keluargaku. Ketersinggungan kepada orang lain yang mengaitkan ibu dan bapakku. Kesalahan yang bagiku, tak ada alasannya.
Masalah bermula dari sebait kata dalam kotak kecil whats on your mind". Dan.... alam social media, rahasia hati adalah rahasia publik. Aku ingat; dulu Ia memang pernah menyampaikan padaku dan ibuku tentang ketidaksukaannya terhadap sikap salah satu karyawan. Parahnya, ia menuliskan kata-kata kasar menyertakan nama jelas karyawan itu. Walhasil, dibaca keluarga karyawan dan menjadi bukti pelaporan kepada ibu dan bapakku. Ketidaksukaan keluarga karyawan menjadi demo kecil dirumahku. Ribut-ribut yang melibatkan aktor dan aktris keluarga karyawan serta para tetangga sebagai penonton. Ibu bapakku tersandera. Mereka sontak kaget. Mendengar penjelasan keluarga karyawan itu. Ibu menangis sekaligus paham inti permasalahan. Namun scene kejadian itu berada diluar logika kehidupan bapak dan ibuku. Diluar gambaran mereka. Yang sangat disesali, ibu pernah berulang-ulang mengingatkan padanya: "dek, jangan diambil pusing, biar aja, tidak perlu juga ditanggapi sikap seperti itu" ucap ibu santai kala itu. Memang kemarahan selalu tampak menyala karena sikap salah yang telah diingatkan berulang kali, dilakukan. Semua orang mungkin bersepakat, kesalahan yang tak pernah diingatkan, mudah diterima dan kesalahan yang sudah diingatkan berulang kali, sulit diterima. Sejak kejadian itu, ia tak pernah ke rumah apalagi ke warung makan. Konsekuesi logis dari itu, Ibu dan bapakku pun tidak pernah lagi bertemu dengannya. Sekali ia meminta maaf via ponsel, itupun belakangan aku tau karena ibu bercerita. Aku Backstreet. Aku bertemu dia dirumahnya atau tempat lain yang kami pilh. Ibu dan bapakku belum bisa menerima kejadian itu.
Aku menyusun kembali harapan, supaya muncul sebentuk solusi baru. Beberapa kali aku membujuk ibu. Usai Sholat aku menciumi ibu, dan menyampaikan keinginanku. Ibu mengerti dan memahami. "Nak, dalam sholat ibu selalu mendoakannya, agar ia mendapatkan yang lebih baik dari kamu" ungkap ibu.
Air mengalir dari mataku, dalam hati aku bergumam, aku tau bahwa dia salah, namun cinta ibu tidak memandang salah. Ketegasan sikap ibu, dibayarkan dengan doa dan cinta. Kedekatan memudar. Berkurang. Bukan antara aku dan dirinya. Antara ia dan kedua orang tuaku. Ibu masih saja tulus berkata: "semua ibu serahkan padamu nak, silahkan kamu sikapi apa yang layak untukmu, dulu ibu sempat kecewa tapi ibu telah memaafkannya" sambung ibu. "Makasih bu' ucapku diantara menahan kegembiraan dan hati yang luluh karena perkataan ibu. Semangatku mencuat. Aku girang. Aku melesat menjemputnya. Mengajak kerumahku, bertemu ibu dan bapakku. The Case is Closed.
Kami menjalani hari seperti biasa lagi. Hubungan antara dia dan ibu bapakku terajut kembali. Meski ibu dan bapak kelihatannya agak berhati-hati. Dalam beberapa kesempatan aku sering memberikan saran agar senantiasa menyikapi masalah-masalah yang datang dengan cara yang dewasa."Makanya tahan emosi, kan aku sudah mengatakannya beberapa kali, akhirnya jadi ribet, apalagi menuliskan kata tidak baik, aku pikir semua orang yang diperlakukan seperti itu akan marah" ungkapku menggurui.
Masalah itu seperti tanda kecil merubah sesuatu yang besar. Ibu memafkannya, tapi ibu bersikap tegas. Insting ibu berkata lain. Fakta-fakta tidak berkesesuaian. Semangat dan harapanku bertolak belakang lagi dengan sikapnya. Meski cintaku tidak menolak sikapnya. Ini lebih menguras emosi. Rencana pernikahanku dengannya batal.
Adikku sebagai satu-satunya pembela, pada akhirnya bersilang kata di personal messages dengannya. Kebencian-kebencian menguap. AKu berusaha menengahi agar jangan sampai di telinga ibu dan bapakku. Keputusan terbesar lahir kala kemarahan adikku membuncah lalu menceritakan perang dinginnya pada ibu. Ibu cerita ke bapak. Lagi-lagi aku menjadi terdakwa. Sidang keluarga dimulai. Sikap mereka linear, adikku yang ku harap dapat menetrasi, gagal. Ibu mulai bersikap sangat tegas. Nada bicara ibu pelan, tapi datar. Tak ada not lain. Satu not. Lirik ibu pun dalam. Berlapis makna. Secara tersurat membebaskan kehendakku, namun inti yang tersirat justru membebaskanku untuk memilih perintah ibuku. Nihil pilihan sebenarnya, yang ada, tunduk pada aturan ibuku. "Dek, terserah kamu, "ibu sih dari awal selalu menyerahkan keputusan padamu, "tapi ibu, bapak dan adikmu itu tidak bisa merasa nyaman lagi, "dari awal saja begini bagaimana nantinya."
Aku mengangguk pelan. Aku mendengar ibuku. Kernyit didahiku menunjukkan pengertian. Ibu pasti memiliki pandangan dan keputusan terbaik menyikapi hubunganku. Sosoknya luar biasa bagiku tapi tidak untuk ibu, bapak dan adikku.
"Untuk apa dekat dalam jangkauan inderawi, tapi secara psikis kita terpisah"
Aku merelakannya untuk tidak bersama kami sekeluarga. Aku merelakan untuk melepasnya. Daun semangat dan harapanku layu. Walalu akar cinta masih tertanam. Aku membunuh rindu, menguburnya bersama kenangan. Sesekali ia hadir, membentuk ruh dalam ingatanku. Hanya doa menjadi jawabnya. Bagiku mengingatnya adalah doaku.
"Kami tak bisa lagi bersama, ibu dan bapakku sulit merasa nyaman lagi, "aku sadar tak bisa sepenuhnya memahamimu. Maafkan aku," Aku bicara panjang lebar. Kami bicara untuk yang terkahir kali. Dan ia pun pergi tanpa sepatah-kata perpisahan. Tanpa tangisan. Ia terlihat lebih tegar. Aku? Meskipun mampu membuat keputusan, tapi sebetulnya aku tak mampu menjalaninya. Bayang-bayang perkataan dan kehendak ibu satu-satunya kekuatanku. .
Aku berpikir tak ada lagi jalan kembali, tapi aku tetap saja tak sanggup benar-benar meninggalkannya.
Sekarang, hanya keteguhan hati. Keteguhan untuk benar-benar menerima segalanya.