Ada harapan yang terbungkus rapi, terselip direlung hatiku.
Di Semesta ke-aku-an, tersusun rapi, menjadi milik bagi diriku
Melangkah bersama merajut hariku.
Sepantasnya, Ia menjawab apa yang mesti
Seharusnya, Ia memberi apa yang mesti.
Saat senja, Ketika akhir tujuan menjadi milikku, berubah kelam dan Seketika lenyap.
Berubah menjadi pelik tak berujung dan tak pernah senyap.
Perjalanan yang penuh liku itu, Serasa tanpa batas ruang dan waktu.
Perjalanan yang menyayat kalbu itu, membuat Badan pun sakit, ditemani pedih yang tak kunjung berlalu.
Sayap-sayapku patah, Menerjang badai jelang senja
Aku Tak lagi sanggup, Mengepak sayap mengitari bumi, Menjemput kabut pagi.
Aku Tak lagi sanggup memandang dunia, walau hanya sejenak ini
Aku disini terdiam, membisu tanpa suara.
Duniaku menjadi gelap oleh kabut.
Cahayaku hilang di telan malam.
Dijantungku tertanam duri, ia menghentikan detak.
Ditanganku tertancap perih,ia menghentikan gerak
Hingga aku tiada tersadar lagi
Bahwa aku sesungguhnya telah mati
Oh, Siapa yg mampu menolong pedihnya jiwa??
Tatkala kejatuhan merasuk kita.
Oh. Pasrahkan pada Sang maha Bijaksana sebagai penanggung lara?
Tak usah! tubuh ini mesti bangkitkan rasa.
Ia akan berputar putar untuk ditinggalkan, karena tak mungkin satu musim akan terus berhembus,
Ia akan berkeliling menjadi kesejukan yang membekas dihatimu
Ia akan menjadi nestapa kebodohan yang nanti musnah diterpa keagungan
Kata orang itu bukan akhir perjalanan, ia membatas selayak ujian kehidupan
Kata orang kebahagiaan itu akan ditemukan.
Ia menanti dibalik senja itu.
Ia menunggu dibalik senja itu.
-------------------------------------------
Aku tak pernah berharap bahwa jalanan terjal, berjejal-jejal, datang disaat senja yang begitu indah. Disaat senja sedang memekarkan senyum terakhirnya bagi alam.
Senyum keindahan bagi sang pemimpi,
Senyum harapan bagi setiap manusia-manusia letih
Kawan..............
Aku rindu masa lalu sebelum senja itu.
Saat kita bebas tertawa dan menangis.
Saat kita merangkai cita yang membanggakan
Aku rindu kepolosan juga keangkuhan itu.
Saat kita bebas untuk melakukan apapun
sehingga suatu saat kita tersadar bahwa kita terlahir untuk memberi warna bagi perjalanan dan perjuangan itu...
(Kupersembahkan puisi ini kepada para sahabat dan orang-orang terkasih yang mengajari aku tentang perjuangan, Yang mengajari aku tentang kebencian, kecintaan. Yang sesungguhnya memberikan makna agung tentang sebenarnya kebersamaan hidup itu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar