Selasa, 21 Mei 2013

Pesan Sufisme Dalam Sholat

Simbol tertinggi dari sebuah tradisi atau praktek keagamaan adalah penyembahan. Bentuk tradisi penyembahan berbeda-beda sesuai dengan periodesasi waktu kenabian. Kita bisa melihat tradisi-tradisi tersebut pada sistem nilai/agama di dunia ini. Praktek Simbol yang berbeda-beda. Namun substansi, nilai, pengaruh terhadap penyembahan sama yakni Ketundukan pada Yang Ada-sebuah Wujud diluar tubuh dan diri manusia- pada ruang dan waktu yang berbeda.
Eksistensi Tradisi Keagamaan paling mudah labeli melalui praktek penyembahan. Tradisi adalah pembeda. Pembeda antara suatu identitas dengan identitas lainnya.
Kita mengenal term bahasa Sholat. Yang secara etimologi, oleh alih-alih sejarah diartikan dengan Sujud, yang ditelusur dari Bahasa Aram, Tzelota.

Sholat adalah pintu masuk religiusitas sekaligus jalan keluar penemuan dan penyatuan antara diri dan Sang Pemilik diri. Perjalanan dari makhluk menuju Khalik meninggalkan materi perlahan-lahan untuk menyatu dengan Cahaya diatas Cahaya.
Sholat membuka ketajaman nalar, kekuatan ingatan, kerendahan sikap serta kebersihan diri. Sholat berujung pada pembersihan diri dari sifat-sifat tercela yakni menjauhkan dari sifat keji dan mungkar sesuai pesan teks Al Qur'an. Pelaksanaan Sholat sejatinya adalah penemuan esensi Ruhaniah dan kembalinya Ruh pada Ilahiah.

Tubuh sebagai pengantar Gerak sholat adalah maujud material. Sebagai bentuk konkrit dari tradisi, simbol penyembahan serta kesaksian terhadap Ilahi. Pada level selanjutnya sholat akan membuka maujud khayali dan Ruhani. Pembersihan pikiran, mental, akal dan spiritual dari sifat-sifat "kebendaan". Yang gelap dan tercela. Bentuk abstrak yang tidak mudah ditelusuri terkecuali atas kehendak. Dan level terakhir adalah hubungan yang menyatu antara Wujud dan Maujud. Meleburnya diri pada sifat keagunganNya. Karena hanya yang bersih yang dapat bertemu secara utuh dengan Yang Terbersih.

Maka Jika Gerak Sholat merupakan penanda religiusitas, maka segala kebaikan-kebaikan yang terkandung didalamnya adalah petanda.
Sholat adalah perangsang alam bawah sadar. Semakin sering digunakan dengan baik, semakin kuat daya menemukan cahaya-cahaya terang Ilahiah.

Kini, ada asumsi-asumsi yang berkembang, sebuah logika yang dibelah, dipisah-pisah yang menjauhkan antara tradisi religi dan Makna. Pernyataan manusia modern, yang mengedepankan kemudahan: Instan dan simbolik. Semisal pernyataan: "Biar tidak sholat tapi berbuat baik, daripada Sholat tp berbuat tidak baik".
Anekdot pembenaran terhadap konsep dan prilaku yang sebetulnya ingin menjauhkan seseorang dari tradisi simbol dan makna religiusitas.
Kalimat tersebut memang berangkat dari fenomena sosial yang menganggap bahwa agama tidak memberikan jalan keluar terhadap masalah-masalah sosial. Fenemona tersebut ditarik dan digeneralisir menjadi kesimpulan untuk menjudge bahwa berbuat baik lebih penting dibanding sibuk dengan ritual keagamaan. Ada benarnya, namun kesimpulan yang diambil dari premis-premis dan fakta yang berbeda lalu digeneralisir menjadi pandangan dan prilaku keseharian juga merupakan sebuah pembenaran yang ujungnya dapat menyesatkan. Bagaimana pula kita dapat menjamin perbuatan baik, bersih dari sikap Riya' dan Sombong.
Kesimpulan ini akhirnya menyulitkan dan menjauhkan tradisi dan nilai keber-agama-an dari prilaku keseharian.
Mengambil maksud Ismail Fajrie Alatas, yang disadur dari Youtube dalam Kuliah Hikmah di Mesjid Ukhuwah Universitas Indonesia, bagaimana mungkin seseorang mengatakan dirinya saleh, kalau praktek-praktek yang sempurna dalam Agama tidak dilakukan.
Bagaimana mungkin pula seseorang bisa menangkap pesan religiusitas kalau pesan kerasulan Muhammad SAW tidak sampai pada pemikiran dan prilaku pengikutnya. Menjauhnya Indeksikal antara pembawa pesan (Rasul, Wali) dan penerima pesan (pengikut/umat). Prilaku tersebut juga secara gamblang berarti terlepasnya seseorang dari teks-teks Suci, Al Qur'an dan hidaya Ilahiah.
Habib Ismail Fajrie Alatas juga menyampaikan bahwa Ketakwaan adalah praktek-praktek adab yang dilaksanakan dengan baik. Praktek adab ini mesti dilaksanakan secara konsisten dalam rangka Pencapaian hidayah Ilahi. Lalu, Sudahkah kita sholat dengan baik? Insha Allah. Akhir kata, tentunya prilaku dan tradisi perlu terus dilaksanakan, melalui pembelajaran, pengajian serta penelusuran guru/pembimbing terbaik yang memiliki indeksikal yang sama dengan guru sebelumnya hingga sampai kepada Rasullullah SAW. Mari kita mencari. Amin Ya Rabbal Alamin.
Sabda:
Rasul SAW:
Sia-sia Shalat orang yang tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar...
Imam 'Ali :
Tidurnya orang berilmu lebih baik daripada ibadahnya orang dungu...

Sabtu, 11 Mei 2013

Nalar Liar

Dunia semakin ramai. Namun rasa selalu sendiri. Beruntung sahabat ponsel cerdas selalu bersama. Sahabat yang tak pernah mengeluh. Budak manusia tekno. Saat sepi dalam keramaian, ia menampung nalar yang berbicara. Nalar berkisah malam ini; Ada kisah tentang perempuan modern, seksi berpadu religius. Sementara lainnya seksi, sedikit vulgar tanpa paduan emblem apapun. Lalu lalang Menohok mata. Nalar berandai-andai dibalik tampilan. Ada pertanyaan yg terselip dibalik itu. Sesungguhnya tidak butuh pertanyaan. Kita bisa saja menghakimi. Sebagai bentuk Tirani atas visual. Tinggal dipilah apa yang tersembunyi dibalik tampilan yg menarik itu. Ada pula yg tidak perlu dipilah sebenarnya, satu hal yang sama: Narsisme. Termasuk saya barangkali. Semua cinta keindahan dirinya. Dengan begitu mereka merasa orang lain pun akan "mencintai". Malam ini semua berkumpul dengan agenda yang sama. Membeli suasana dan kenikmatan. Setiap mata saling berebut pandang. Entah mengapa. Mekanisme berebut pandang ini sebetulnya tak bisa dihindari. Situasi yang sudah terkondisikan tanpa butuh kesadaran. Neurotik yang sudah terprogram dengan sendirinya akibat model sosial kekinian, yang baru saja mekar dan berkembang disini. Gaya hidup penuh warna dan hasrat. Melihat kebawah salah satu cara untuk menghindarkan pandangan. Bermain bersama ponsel cerdas, sebagai kepura-puraan, menghindari tatapan yang berlebihan. Nalar masih ingin bertatap lama, pasti. Dengan harapan agar bertemu ditempat yang berbeda, mencipta suasana dan meraih kenikmatan, hanya berdua, tanpa hiruk pikuk. Karena sepertinya mudah membeli tubuh si penyaji dengan dalih cinta atau materi. Yang tampak ini, tak perlu norma, cuman butuh kekuatan materi. Si penyaji tampilan pun sepertinya senang dengan aura yang ia suguhkan. Seakan dahinya tertulis: "Godalah dan bawa aku pergi mengembara malam". Baru saja si penyaji pergi, mata masih saja mengikuti kemana arahnya. Ah, Nalar liar. Berhati-hati dengan mata anda. Ah bukan, berhati-hati dengan tampilan yang kita tampakkan. Mengundang nalar berkisah dan menghakimi. Ah, Sudahlah.
-Dipinggiran Kota yang megah-

Jumat, 03 Mei 2013

Ikatan Semu

Cinta beralas kerudung suci pada ruang kealpaan bersekat dinding-dinding bisu yg berisyarat, engkau serahkan asa yg tak bernyawa.

Berpelukan dg cemas. Di peraduan, sehelai rambut, berbekas.
Bergegas, lembut paras, terlepas.
Rindu memeras, ingin lekas.


Rabu, 01 Mei 2013

Imaji 2014

Petanda apa untuk siapa
Dinding-dinding berbicara meracik bahasa
laksana debu yang memekakan mata.

Sosok rupawan penebus kekhilafan berhamburan tampilkan keramahan.
Beri penanda laksana angin kibaskan kelembutan.

Dibalik keindahan, ada pinta yang merekah. Untuk apa dan siapa.
Beri fakta, menerka-nerka
rencana takdir yang tersimpan.

Tangan-tangan menanam mengisi kekosongan telapak.
Rela silih berganti beraneka ragam tanpa tekanan.

Pada saatnya, jeruji alpa datang melingkari jiwa yg bergembira.
Lembaran Komedi tragis bercerita tentang sejarah-sejarah tersembunyi.

Pena lidah menggunjing berteriak, menghardik nasib yang tertinggal dibalik bahagia yang bertahta.
Kapankah datang kembali.

Beradu hari penuh luka.
Berputar detik romansa penuh perih
Salahkah tanda yang terbaca
Marah, untuk apa dan siapa.

Dan tanda masa depan membahana
Kemudian terlepas dan berserah
Genggam doa dipuncak derita
Dendam, untuk apa dan siapa.