Simbol tertinggi dari sebuah tradisi atau praktek keagamaan adalah penyembahan. Bentuk tradisi penyembahan berbeda-beda sesuai dengan periodesasi waktu kenabian. Kita bisa melihat tradisi-tradisi tersebut pada sistem nilai/agama di dunia ini. Praktek Simbol yang berbeda-beda. Namun substansi, nilai, pengaruh terhadap penyembahan sama yakni Ketundukan pada Yang Ada-sebuah Wujud diluar tubuh dan diri manusia- pada ruang dan waktu yang berbeda.
Eksistensi Tradisi Keagamaan paling mudah labeli melalui praktek penyembahan. Tradisi adalah pembeda. Pembeda antara suatu identitas dengan identitas lainnya.
Kita mengenal term bahasa Sholat. Yang secara etimologi, oleh alih-alih sejarah diartikan dengan Sujud, yang ditelusur dari Bahasa Aram, Tzelota.
Sholat adalah pintu masuk religiusitas sekaligus jalan keluar penemuan dan penyatuan antara diri dan Sang Pemilik diri. Perjalanan dari makhluk menuju Khalik meninggalkan materi perlahan-lahan untuk menyatu dengan Cahaya diatas Cahaya.
Sholat membuka ketajaman nalar, kekuatan ingatan, kerendahan sikap serta kebersihan diri. Sholat berujung pada pembersihan diri dari sifat-sifat tercela yakni menjauhkan dari sifat keji dan mungkar sesuai pesan teks Al Qur'an. Pelaksanaan Sholat sejatinya adalah penemuan esensi Ruhaniah dan kembalinya Ruh pada Ilahiah.
Tubuh sebagai pengantar Gerak sholat adalah maujud material. Sebagai bentuk konkrit dari tradisi, simbol penyembahan serta kesaksian terhadap Ilahi. Pada level selanjutnya sholat akan membuka maujud khayali dan Ruhani. Pembersihan pikiran, mental, akal dan spiritual dari sifat-sifat "kebendaan". Yang gelap dan tercela. Bentuk abstrak yang tidak mudah ditelusuri terkecuali atas kehendak. Dan level terakhir adalah hubungan yang menyatu antara Wujud dan Maujud. Meleburnya diri pada sifat keagunganNya. Karena hanya yang bersih yang dapat bertemu secara utuh dengan Yang Terbersih.
Maka Jika Gerak Sholat merupakan penanda religiusitas, maka segala kebaikan-kebaikan yang terkandung didalamnya adalah petanda.
Sholat adalah perangsang alam bawah sadar. Semakin sering digunakan dengan baik, semakin kuat daya menemukan cahaya-cahaya terang Ilahiah.
Kini, ada asumsi-asumsi yang berkembang, sebuah logika yang dibelah, dipisah-pisah yang menjauhkan antara tradisi religi dan Makna. Pernyataan manusia modern, yang mengedepankan kemudahan: Instan dan simbolik. Semisal pernyataan: "Biar tidak sholat tapi berbuat baik, daripada Sholat tp berbuat tidak baik".
Anekdot pembenaran terhadap konsep dan prilaku yang sebetulnya ingin menjauhkan seseorang dari tradisi simbol dan makna religiusitas.
Kalimat tersebut memang berangkat dari fenomena sosial yang menganggap bahwa agama tidak memberikan jalan keluar terhadap masalah-masalah sosial. Fenemona tersebut ditarik dan digeneralisir menjadi kesimpulan untuk menjudge bahwa berbuat baik lebih penting dibanding sibuk dengan ritual keagamaan. Ada benarnya, namun kesimpulan yang diambil dari premis-premis dan fakta yang berbeda lalu digeneralisir menjadi pandangan dan prilaku keseharian juga merupakan sebuah pembenaran yang ujungnya dapat menyesatkan. Bagaimana pula kita dapat menjamin perbuatan baik, bersih dari sikap Riya' dan Sombong.
Kesimpulan ini akhirnya menyulitkan dan menjauhkan tradisi dan nilai keber-agama-an dari prilaku keseharian.
Mengambil maksud Ismail Fajrie Alatas, yang disadur dari Youtube dalam Kuliah Hikmah di Mesjid Ukhuwah Universitas Indonesia, bagaimana mungkin seseorang mengatakan dirinya saleh, kalau praktek-praktek yang sempurna dalam Agama tidak dilakukan.
Bagaimana mungkin pula seseorang bisa menangkap pesan religiusitas kalau pesan kerasulan Muhammad SAW tidak sampai pada pemikiran dan prilaku pengikutnya. Menjauhnya Indeksikal antara pembawa pesan (Rasul, Wali) dan penerima pesan (pengikut/umat). Prilaku tersebut juga secara gamblang berarti terlepasnya seseorang dari teks-teks Suci, Al Qur'an dan hidaya Ilahiah.
Habib Ismail Fajrie Alatas juga menyampaikan bahwa Ketakwaan adalah praktek-praktek adab yang dilaksanakan dengan baik. Praktek adab ini mesti dilaksanakan secara konsisten dalam rangka Pencapaian hidayah Ilahi. Lalu, Sudahkah kita sholat dengan baik? Insha Allah. Akhir kata, tentunya prilaku dan tradisi perlu terus dilaksanakan, melalui pembelajaran, pengajian serta penelusuran guru/pembimbing terbaik yang memiliki indeksikal yang sama dengan guru sebelumnya hingga sampai kepada Rasullullah SAW. Mari kita mencari. Amin Ya Rabbal Alamin.
Sabda:
Rasul SAW:
Sia-sia Shalat orang yang tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar...
Imam 'Ali :
Tidurnya orang berilmu lebih baik daripada ibadahnya orang dungu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar