Sabtu, 11 Mei 2013

Nalar Liar

Dunia semakin ramai. Namun rasa selalu sendiri. Beruntung sahabat ponsel cerdas selalu bersama. Sahabat yang tak pernah mengeluh. Budak manusia tekno. Saat sepi dalam keramaian, ia menampung nalar yang berbicara. Nalar berkisah malam ini; Ada kisah tentang perempuan modern, seksi berpadu religius. Sementara lainnya seksi, sedikit vulgar tanpa paduan emblem apapun. Lalu lalang Menohok mata. Nalar berandai-andai dibalik tampilan. Ada pertanyaan yg terselip dibalik itu. Sesungguhnya tidak butuh pertanyaan. Kita bisa saja menghakimi. Sebagai bentuk Tirani atas visual. Tinggal dipilah apa yang tersembunyi dibalik tampilan yg menarik itu. Ada pula yg tidak perlu dipilah sebenarnya, satu hal yang sama: Narsisme. Termasuk saya barangkali. Semua cinta keindahan dirinya. Dengan begitu mereka merasa orang lain pun akan "mencintai". Malam ini semua berkumpul dengan agenda yang sama. Membeli suasana dan kenikmatan. Setiap mata saling berebut pandang. Entah mengapa. Mekanisme berebut pandang ini sebetulnya tak bisa dihindari. Situasi yang sudah terkondisikan tanpa butuh kesadaran. Neurotik yang sudah terprogram dengan sendirinya akibat model sosial kekinian, yang baru saja mekar dan berkembang disini. Gaya hidup penuh warna dan hasrat. Melihat kebawah salah satu cara untuk menghindarkan pandangan. Bermain bersama ponsel cerdas, sebagai kepura-puraan, menghindari tatapan yang berlebihan. Nalar masih ingin bertatap lama, pasti. Dengan harapan agar bertemu ditempat yang berbeda, mencipta suasana dan meraih kenikmatan, hanya berdua, tanpa hiruk pikuk. Karena sepertinya mudah membeli tubuh si penyaji dengan dalih cinta atau materi. Yang tampak ini, tak perlu norma, cuman butuh kekuatan materi. Si penyaji tampilan pun sepertinya senang dengan aura yang ia suguhkan. Seakan dahinya tertulis: "Godalah dan bawa aku pergi mengembara malam". Baru saja si penyaji pergi, mata masih saja mengikuti kemana arahnya. Ah, Nalar liar. Berhati-hati dengan mata anda. Ah bukan, berhati-hati dengan tampilan yang kita tampakkan. Mengundang nalar berkisah dan menghakimi. Ah, Sudahlah.
-Dipinggiran Kota yang megah-

2 komentar:

  1. nah bisa coment via lappy :D
    oiii nanti di enter-kan saja alinea baru supaya enak dibaca ^.^ diriku juga suka apdet blog pake bebei :D

    BalasHapus
  2. Fakta dan realita jaman skg (y)

    BalasHapus